Showing posts with label kekristenan. Show all posts
Showing posts with label kekristenan. Show all posts

Sunday, 22 October 2023

Filosofi Pendidik Kristen

 Oleh: Markus Heri Prasetyo S.T.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu filsafat berperan sentral sebagai asal atau pokok dari ilmu pengetahuan itu sendiri, karena filsafat yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha yang dilakukan oleh manusia secara spiritual untuk mencari kebenaran atau pengetahuan. Maka filsafat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan, terkhusus kita sebagai seorang guru dalam mendidik siswa-siswi. Filsafat dipakai sebagai pendekatan dalam dunia pendidikan, memberikan arah dalam kegiatan dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan pandangan hidup dalam kehidupan sosial masyarakat.


Menurut saya, sesuai dengan perkembangan era modern yang semakin pesat menuntut kita para guru dan sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk mempersiapkan siswa-siswi menghadapi setiap tantangan dan permasalahan yang mungkin akan dihadapi. Pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin bisa menjadi tidak benar pada masa yang akan datang. Maka dari itu, guru mempersiapkan para siswa untuk masa depan mereka dengan membekali keterampilan berupa strategi untuk memecahkan masalah (problem solving) dan mengatasi masalah-masalah tersebut dalam kehidupannya sehingga menemukan pengetahuan yang relevan dengan saat itu. Hal ini tentunya ditunjang dengan dasar menganalisa diri pribadi, merefleksi diri secara berkelanjutan, sehingga para siswa dapat mengindentifikasikan nilai-nilai yang tepat dan sesuai dan tepat. Hal yang sangat penting dari semua hal yang seorang guru lakukan untuk mendidik para siswanya adalah tetap meletakkan Alkitab sebagai dasar dari filsafat pendidikan yang diterapkan. Karena kebenaran itu menurut saya mutlak, karena Tuhan Allahlah kebenaran sejati itu. Yang perlu dipercayai bahwa hal yang baik belum tentu benar, tetapi hal yang benar sudah pasti baik. 

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dalam pembelajaran menekankan pada pembelajaran aktif, guru sebagai fasilitator untuk menstimulasi para siswa untuk aktif belajar dengan melakukan kegiatan, bisa dengan pendekatan sains (scientific approach) untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui pengalaman langsung (practical experience)


Salah satu tujuan pendidikan adalah mencerdaskan para siswa dengan mengajar para siswa untuk berfikir secara rasional dengan tetap memberikan landasan sosial, sehingga akhirnya para siswa akan memberi kontribusi dan peran positif dalam kehidupan bermasyarakat.


Sekolah melalui guru mengajar para siswa tentang nilai-nilai personal bercermin pada diri Pribadi Yesus sebagai Manusia Sempurna (Kej 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." ) dan juga nilai-nilai sosial (Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.)


Sejatinya bahwa semua orang dapat berubah dengan konstan, dan melalui proses pembelajaran memungkinkan merubah masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Selain itu pembelajaran juga harus mempertimbangkan siswa secara menyeluruh, baik minat dan kebutuhannya dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.


Mutu hasil pendidikan seyogyanya tidak ditentukan dengan menetapkan ukuran yang berlaku secara mutlak karena hakikatnya pendidikan adalah suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus. Pembelajaran berpusat pada siswa bukan guru, guru memfasilitasi para siswa dalam menentukan dan memilih masalah yang bermakna, membantu menemukan sumber-sumber data yang sesuai, menganalisa dan menyimpulkan. Para siswa diberi kebebasan tentang pengetahuan dan kegiatan yang diinginkan, dengan tetap dibimbing guru maupun orang tua. Sehingga para siswa memperoleh keterampilan yang cukup untuk berinteraksi dalam lingkungan masyarakat yang berbeda dalam proses perubahan yang berkelanjutan. Dengan pengalaman pembelajaran yang dimiliki, para siswa akan mampu menghadapi setiap tantangan perubahan zaman yang akan terjadi di masa mendatang.


Renungan Kristen: Hati Yang Rendah Hati

 Renungan :

Hati yang Rendah Hati

“Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” Mazmur 25: 9

"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 1 Petrus 5:5b

 

Kita tahu bahwa Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Pengorbanan-Nya untuk memulihkan kembali hubungan kita dengan Allah. Tetapi ada langkah penting yang harus kita lakukan untuk mendapatkan  rahmat dan kasih karunia yang diberikan-Nya melalui  pengorbanan-Nya kepada kita.

Langkah itu adalah mempraktikkan kerendahan hati dalam kehidupan kita. Alkitab berkata, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 1 Petrus 5:5, Yakobus 4: 6).

 

Tapi apa artinya rendah hati?

Menjadi rendah hati berarti menyadari betapa lemahnya diri kita, betapa tidak berdayanya kita untuk mengubah jalan hidup kita dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi kita meminta pengampunan dan bimbingan dari Tuhan , karena hal inilah yang Tuhan  ingin lihat tinggal di hati kita.

Dia ingin kita menyadari dan mengakui ketidakberdayaan kita, keberdosaan kita, dan kebutuhan kita sepenuhnya akan Dia dalam hidup kita, dan kita dapat melakukan hal itu, terlepas dari kedalaman kelemahannya, karena kita tahu Tuhan tidak akan pernah menolak mereka yang datang kepada-Nya dengan roh yang rendah hati.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Mazmur 34:19

Psalms 34:18(KJV) The LORD is nigh unto them that are of a broken heart; and saveth such as be of a contrite spirit. 

Kalau kita terjemahkan bebas: “Tuhan dekat kepada mereka yang memiliki hati yang hancur, dan menyelamatkan seperti memiliki roh yang menyesal” 

Sudahkah kita rendah hati dan memiliki hati yang penuh penyesalan kita kepada Sang Pencipta hidup kita? Kita percaya bahwa diri kita rendah hati, tetapi sering kali sulit dalam kehidupan bermasyarakat kita saat ini untuk menunjukkan kerendahan hati kita sebanyak yang Tuhan inginkan. Secara budaya, kita telah bergerak lebih jauh dari jalan Tuhan dan sebaliknya menempatkan fokus perhatian kita pada cara dunia. Kebanyakan orang melihat bahwa kerendahan hati tidak dilihat sebagai sifat positif, tetapi malah dipandang sebagai suatu kelemahan, bahkan kerendahan hati dipandang sebagai hal yang harus dihindari dengan cara apa pun. Mari kita renungkan sejenak kehidupan kita, entah itu kehidupan sosial atau profesional kita sendiri. Seberapa sering kita mendengar seseorang di sekitar kita mengakui bahwa mereka salah atau melakukan kesalahan? Kapan terakhir kali kita  mengakui hal seperti itu? Banyak orang takut mengakui kesalahan atau mengungkap kelemahan, dan sebaliknya membiarkan diri mereka bergerak ke posisi kebanggaan. Lebih mudah untuk berbohong, membuat alasan, atau mengabaikan masalah pribadi daripada menghadapinya dengan rendah hati. 

Banyak dari kita, bahkan para hamba Tuhan yang dalam posisi kehilangan kerendahatiannya karena merasa pelayanannya luar biasa, ia banyak melayani jiwa, ia berhasil membuat gerejanya menjadi besar dan terkenal. Fokus mulai bergeser, dari untuk TUHAN tersamar menjadi untuk kemuliaan dirinya. Kita mudah terjebak dalam kebanggaan akan pelayanan kita. Dan dalam rencana Tuhan, kesombongan menjadi penghalang, kesombongan akan menghentikan belas kasihan-Nya kepada kita. 


Apa yang harus kita lakukan?

Kita harus mengesampingkan kesombongan dan kita harus datang kepada Allah melalui Yesus, mengakui kebutuhan dan kelemahan kita, dan meminta Kristus untuk menyucikan dan menerima kita. Kita harus meminta Yesus untuk mengendalikan hidup kita dengan membimbing kita setiap langkah.

Ketika kesombongan dikesampingkan dengan kerendahhatian maka pintu terbuka untuk menerima berkat penuh-Nya. Mulailah kita membalikkan cara lama:

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. (Yesaya 55: 7).

Jika kita sudah mengakui kelemahan dan kesalahan kita dan meminta Kristus untuk menerima kita. Hal ini tidak hanya dilakukan sekali saja, tetapi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan doa harian kita. 

Sudah menjadi sifat manusia untuk ingin membuat keputusan sendiri dan memiliki berbagai hal dengan cara kita sendiri. Bukan sifat kita untuk berhenti dan meminta izin atau bantuan. Maka langkah pertama untuk membuat keputusan yang bijaksana mungkin dengan mengakui bahwa kita membutuhkan bimbingan. Pada titik tertentu, kita semua harus tumbuh dewasa. Kita harus berhenti menginjak kaki kita dan berkata, "Cara saya," dan mulai berlutut dan menyatakan, "Cara Engkau, Tuhan." 

Itu disebut kerendahan hati; dan tidak ada yang lebih menyenangkan Tuhan daripada hati yang rendah hati. Di seluruh Alkitab kita melihat bahwa Allah bersuka hati. Seperti Dia menentang kesombongan, Dia menghargai kerendahan hati. Dan dalam Mazmur 25: 9 kita melihat bahwa kerendahan hati dihargai dengan bimbingan dan kebijaksanaan Allah. 

Tuhan ingin kita tahu kehendak-Nya. Dia ingin kita membuat keputusan terbaik sesuai dengan rencana-Nya. Tetapi Dia tidak akan memaksa kita untuk datang kepada-Nya untuk bimbingan. Jika kita ingin melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri, sebagian besar waktu Dia akan membiarkan kita. Dia akan membiarkan kita belajar dengan cara yang sulit bahwa jalan-Nya lebih baik daripada cara kita sendiri. Jika kita tidak merendahkan diri, Dia akan membiarkan keadaan kita melakukannya untuk kita. Bagaimanapun, kita akhirnya membungkuk di hadapan-Nya. Mengapa kita memilih jalan yang lebih sulit menuju kerendahan hati? Mengapa tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita membutuhkan bimbingan-Nya, daripada mencobanya dengan cara kita sendiri dan gagal? Kita lebih baik meminta Tuhan untuk membimbing langkah kita daripada memperbaiki kesalahan kita.

“Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri di tempat para pembesar. Karena lebih baik orang berkata kepadamu: "Naiklah ke mari," dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia.” Amsal 25: 6-7

Yesus tidak hanya mengenal hati kita, Dia mengamati perilaku kita dengan cerdas. Pada sebuah makan malam yang diadakan di rumah orang Farisi, Yesus memperhatikan bagaimana para tamu mengambil tempat kehormatan yang paling dekat dengan tuan rumah mereka. Kedengarannya agak seperti pergi ke resepsi pernikahan dan duduk sendiri di meja utama dengan pengantin. Yesus memberi tahu para tamu yang berteriak-teriak tentang kerendahan hati yang menggemakan pepatah hari ini. Menerapkan pelajaran itu, ia menyatakan, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” ( Lukas 14:11). Amsal 16:18 menegaskan hal ini, ”Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan..”

Orang bijak mengerti kata-kata Yesus ketika ia menerapkan kebijaksanaan Salomo. Orang bijak menyadari bahwa Firman Tuhan memiliki pedoman yang cukup untuk membantu kita berjalan dengan cara yang bijaksana. Amin.


Menjadi Seorang Guru? Sebuah refleksi dalam sudut pandang Kekristenan

Menjadi seorang guru adalah sebagai pembelajar dewasa, guru seharusnya dapat belajar dari pengalaman hidup yang bisa diceritakan kembali kepada orang lain terutama bagi para siswa. Pengalaman menjadi hal sangat penting, pengalaman berupa pengalaman hidup yang dapat diceritakan dengan gamblang kepada siswa. Lebih banyak orang mudah memahami sesuatu ketika dengan merasakan pengalaman langsung. Bagi saya menjadi guru adalah suatu tantangan yang lebih berat dibandingkan dengan latar belakang profesi saya sebelumnya di manufakturing dan bisnis pribadi, ada hal yang sangat mendasari perbedaan profesi tersebut. Seorang guru diberikan tanggung jawab baik segi kognitif, skill dan afektif berupa moral dan spiritual, dan lagi setiap tahun tantangan selalu berganti seiring dengan perkembangan biologis dan psikis anak didik, dan juga berganti anak didik yang dipercayakan orang tua kepada guru lewat sekolah.

Saya menyadari bahwa sebagai seorang guru, saya masih banyak belajar terutama dari pengalaman-pengalaman hidup saya sendiri, saya juga mendapatkan dari pengalaman hidup orang lain, terutama dari rekan kerja saya, selain itu seorang guru juga bisa belajar dari apa yang dihadapi terhadap masalah siswa dan juga orang tua. Sekarang ini saya banyak menghadapi generasi siswa sekarang yang kurang peduli terhadap orang lain, banyak siswa yang bermasalah karena keluarga mereka yang bermasalah. Guru sebagai pendidik mau tidak mau juga berperan sebagai konselor bagi siswanya, membimbing siswa untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya. Saya sering kali menceritakan pengalaman hidup saya yang menurut saya tidak mulus dan saya yang dulu meninggalkan kehidupan kekristenan saya, saya menolak Yesus sebagai Tuhan, dan saya banyak melakukan dosa, waktu itu ketika saya masih di akhir perkuliahan ketika saya mengambil sarjana dan awal-awal saya bekerja setelah lulus, banyak pengalaman hidup saya yang saya ceritakan lewat tatap muka di kelas yang berhubungan dengan pelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai alkitabiah, juga ketika saya berhadapan dengan siswa didik saya ketika saya ada waktu khusus untuk mereka satu per satu. Seorang guru itu seharusnya tidak hanya sekedar “jarkoni” , mung ngujar ning ora ngelakoni; hanya berujar, berkata tetapi tidak melakukannya, tetapi seorang guru adalah teladan bagi siswa didiknya, guru memberikan suatu contoh berupa tindakan yang sudah dia lakukan. Akan sangat terasa berbeda jika kita mengatakan sesuatu hal, tetapi kita tidak atau belum pernah melakukan hal tersebut, dibandingkan dengan mengucapkan sesuatu hal yang sudah dilakukan sebelumnya. Orang yang sudah melakukan sesuatu akan lebih mudah menceritakan kembali pengalaman tersebut kepada orang lain karena yang diceritakan adalah pengalaman hidup. Banyak siswa yang terkadang melakukan kesalahan tetapi tidak menyadari kesalahannya, ada juga yang melakukan kesalahan tetapi hanya berhenti sampai kepada permintaan maaf tetapi belum ada tindakan yang nyata untuk menindaklanjuti setelah permintaan maaf tersebut. Proses mendidik siswa bisa jadi tidak akan bisa kita lihat langsung perubahannya, perubahan terkadang harus sampai ketika mereka sudah lulus atau bahkan ketika mereka sudah beranjak lebih dewasa. Mungkin begitulah siswa seperti saya juga seorang guru yang lebih dewasa dari mereka, tetapi saya terus berproses dalam pembelajaran saya. 

Tak jarang beberapa alumni yang pulang ke Solo mereka mampir ke sekolah hanya untuk bersua dengan guru-guru mereka dahulu. Mereka bercerita dengan tantangan yang mereka hadapi ketika kuliah di luar negeri dan sekarang bekerja di luar negeri juga, dan mereka bilang bahwa mereka bersyukur diberi didikan yang berarti yang mempersiapkan mereka menjadi anak yang lebih mandiri dan memiliki prinsip dalam hidup mereka. Bahkan mereka pun juga beberapa masih ingat dahulu ketika saya memarahi mereka dan mereka baru menyadari kenapa mereka dimarahi ketika malah mereka sudah lulus. Masing-masing pribadi belajar, berproses dan menjadi lebih baik ketika kita fokus dengan apa yang kita pelajari. 

Luke 2:52 And Jesus increased in wisdom and stature, and in favour with God and man. Yesus sebagai teladan hidup kita, sudah mencontohkan seperti di ayat tersebut di atas, ketika Yesus masih berumur 12 tahun dia sudah berfokus dengan Firman BapaNya, kemudian di ayat 52 dikatakan bahwa Yesus semakin berhikmat ketika dia bertambah dewasa pertumbuhannya, dan menjadi pribadi yang disukai Allah dan orang-orang. 


Oleh: Markus Heri Prasetyo, S.T.
Guru Fisika dan Kimia

Recent Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *