Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Sunday, 29 October 2023

Bedanya apa? Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Cambridge International?


 Kurikulum dalam dunia pendidikan sebagai framework, dasar pendidikan itu dijalakan di suatu satuan pendidikan. Di Indonesia beberapa kali mengubah kurikulumnya, terakhir kita disuguhi kurikulum Merdeka dengan semangat merdeka mengajar dan merdeka belajar. Diharapkan dengan bergulirnya kurikulum baru ini tidak lagi berbasis pada konten materi pembelajaran, tetapi lebih mengacu pada bagaimana membuat siswa belajar, bagaimana mengoptimalkan potensi siswa itu sendiri. Guru memiliki kebebasan dalam mengolah Capaian Pembelajaran untuk diramu tujuan Pembelajarannya dalam Alur Tujuan Pembelajaran atau yang dulu disebut dengan silabus. Beberapa sekolah ada yang menjalankan kurikulum nasional dan juga kurikulum asing, salah satu kurikulum asing yang paling banyak diadopsi adalah kurikulum cambridge. 
Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Cambridge International , kedua kurikulum ini memiliki perbedaan yang signifikan dalam pendekatannya, tujuannya, dan struktur pembelajarannya. Berikut ini adalah beberapa perbedaan utama antara kedua kurikulum tersebut:

1. Perbedaan mengenai Tujuan dan Lingkup:

Kurikulum Merdeka

Kurikulum ini diperkenalkan oleh Pemerintah Indonesia yang berfokus pada pengembangan keterampilan generik, peningkatan kreativitas, kemandirian, dan kebermanfaatan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dunia nyata dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan.

Kurikulum Cambridge International

Kurikulum ini, yang dikenal juga sebagai Cambridge Assessment International Education, adalah kurikulum internasional yang dirancang oleh Cambridge University di Inggris. Kurikulum ini menekankan standar internasional dalam pelajaran inti seperti Matematika, Sains, Bahasa Inggris, dan Mata Pelajaran Sosial, dengan tujuan mempersiapkan siswa untuk ujian internasional seperti IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) dan A-Level (Advanced Level).

2. Struktur Kurikulum:

Kurikulum Merdeka: Kurikulum ini didesain dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan lokal. Fokusnya pada pengembangan keterampilan praktis dan penerapan pengetahuan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Kurikulum Cambridge International: Kurikulum ini memiliki struktur yang lebih terstruktur dan didasarkan pada standar internasional. Mata pelajaran ditetapkan dengan cermat, dan siswa mengikuti ujian standar internasional yang menilai pemahaman mereka terhadap materi pelajaran dan keterampilan akademik.

3. Ujian:

Kurikulum Merdeka: Pendekatan ini mungkin tidak memiliki ujian standar nasional atau internasional yang diwajibkan. Evaluasi lebih cenderung berbasis proyek, kinerja, dan penilaian keterampilan praktis.

Kurikulum Cambridge International: Siswa yang mengikuti kurikulum ini diharapkan untuk mengikuti ujian standar internasional seperti IGCSE dan A-Level yang mengukur pemahaman mereka terhadap materi pelajaran dan keterampilan akademik.

4. Akreditasi dan Pengakuan Internasional:

Kurikulum Merdeka: Lebih difokuskan pada pendidikan nasional dan mungkin memiliki tingkat pengakuan terutama di dalam negeri.

Kurikulum Cambridge International: Merupakan kurikulum internasional yang diakui di berbagai negara di seluruh dunia. Sertifikat dan kualifikasi dari Cambridge International memiliki pengakuan yang luas di perguruan tinggi dan tempat kerja internasional.

Saat memilih kurikulum, penting bagi siswa dan orang tua untuk mempertimbangkan tujuan pendidikan jangka panjang, kebutuhan siswa, dan aspirasi karier. Pilihan kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan dan harapan individu serta rencana studi dan karier di masa depan.

BACA JUGA:

Capaian Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka: Transformasi Menuju Pendidikan yang Lebih Holistik dan Inklusif

Contoh KKTP Menggunakan Interval Nilai

Contoh 1: KKTP Menggunakan pendekatan Rubrik

Contoh Download Modul Ajar IPA Kelas 7


Kurikulum Cambridge International memungkinkan fleksibilitas dalam metode pengajaran dan penilaian, termasuk pendekatan berbasis proyek. Banyak sekolah yang mengadopsi kurikulum Cambridge memilih untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek ke dalam kurikulum mereka.

Dalam pendekatan berbasis proyek, siswa akan terlibat dalam proyek-proyek nyata yang memungkinkan mereka untuk mengasah keterampilan mereka melalui pengalaman praktis. Proyek-proyek ini dapat melibatkan riset, kerjasama tim, pemecahan masalah, presentasi, dan pengembangan keterampilan kreatif. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa tetapi juga mengajarkan mereka keterampilan penting seperti berpikir kritis, komunikasi, dan keterampilan kolaboratif.

Sekolah yang menerapkan pendekatan berbasis proyek dalam konteks kurikulum Cambridge International sering kali berfokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, yang mencakup keterampilan seperti pemecahan masalah, kreativitas, literasi digital, dan keterampilan sosial. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep-konsep akademis, tetapi juga belajar menerapkan pengetahuan dan keterampilan ini dalam situasi dunia nyata melalui proyek-proyek yang relevan.

Namun, walaupun pendekatan berbasis proyek dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum Cambridge International, penting bagi sekolah untuk memastikan bahwa proyek-proyek tersebut terintegrasi secara efektif dengan materi pelajaran yang diajarkan, memenuhi standar pembelajaran, dan memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

Ketika kita membicarakan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Cambridge International, keduanya dapat menggunakan berbagai pendekatan, termasuk kombinasi dari pendekatan konten dan materi, tergantung pada bagaimana kurikulum tersebut dirancang dan diimplementasikan di sekolah.

Kurikulum Merdeka: Kurikulum ini mungkin memiliki fokus pada pengembangan keterampilan, sikap, dan pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep tertentu. Ini bisa mencakup strategi pengajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan praktis dan penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini dapat diintegrasikan dengan proyek-proyek praktis dan pembelajaran berbasis pengalaman.

Kurikulum Cambridge International: Kurikulum ini memiliki standar internasional untuk konten pembelajaran. Namun, dalam implementasinya, guru memiliki kebebasan untuk memilih metode pengajaran dan pendekatan pembelajaran, termasuk pendekatan berbasis proyek dan pendekatan praktis, untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan.

Dengan demikian, sementara ada struktur dan standar dalam konten pembelajaran Kurikulum Cambridge International, cara materi ini diajarkan dan dipahami oleh siswa dapat bervariasi berdasarkan pendekatan pengajaran yang digunakan oleh guru di berbagai sekolah yang mengadopsi kurikulum ini. Begitu pula dengan Kurikulum Merdeka, di mana pendekatan praktis dan aplikatif dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

 


Capaian Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka: Transformasi Menuju Pendidikan yang Lebih Holistik dan Inklusif

 

Pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa. Melalui sistem pendidikan yang berkualitas, generasi muda dapat diberdayakan untuk menghadapi tantangan masa depan dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang memadai. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, Indonesia memperkenalkan inovasi besar yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka bukan sekadar perubahan pada buku teks, tetapi sebuah transformasi pendidikan yang menitikberatkan pada pembelajaran yang inklusif, kolaboratif, dan kreatif.

Dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang, Indonesia memperkenalkan sebuah paradigma baru dalam pendidikan yang dikenal sebagai Kurikulum Merdeka. Lebih dari sekadar sekumpulan mata pelajaran, Kurikulum Merdeka menciptakan sebuah ekosistem pendidikan yang mengakui keberagaman individualitas siswa dan mendorong pengembangan keterampilan, pengetahuan, serta karakter yang holistik. Berikut adalah pencapaian-pencapaian utama yang telah dicapai melalui implementasi Kurikulum Merdeka:

1. Inklusivitas Sebagai Landasan Utama

Kurikulum Merdeka memperkuat pendekatan inklusif di dalam kelas. Siswa dengan kebutuhan khusus mendapatkan dukungan yang tepat, memastikan bahwa setiap anak mendapat pendidikan yang sesuai dengan potensinya. Guru memiliki pelatihan mendalam dalam merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan siswa, menciptakan ruang belajar yang ramah dan mendukung bagi semua. Salah satu poin paling kuat dari Kurikulum Merdeka adalah inklusivitasnya. Setiap siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dengan mendukung berbagai metode pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, Kurikulum Merdeka menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif di mana semua siswa merasa dihargai dan didukung.

2. Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif

Kurikulum Merdeka menggalakkan pendekatan pembelajaran kontekstual yang membangun keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan nyata. Melalui proyek-proyek interdisipliner dan diskusi kolaboratif, siswa belajar bagaimana mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi dunia nyata. Pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru, tetapi mendorong siswa untuk menjelajahi pengetahuan sendiri melalui penemuan dan eksplorasi.

Kurikulum Merdeka menggali potensi kolaboratif siswa. Melalui proyek-proyek kelompok dan diskusi terbuka, siswa diajak untuk berinteraksi dan menghargai perspektif orang lain. Ini bukan hanya membangun keterampilan sosial, tetapi juga membantu dalam pengembangan kemandirian dan pemecahan masalah. Dalam lingkungan ini, siswa belajar bukan hanya dari guru, tetapi juga satu sama lain, menciptakan dinamika pembelajaran yang kaya dan mendalam.

3. Penilaian Holistik yang Mencerminkan Kecerdasan Multi-Dimensi

Pendekatan penilaian Kurikulum Merdeka mencakup berbagai bentuk pencapaian, tidak hanya sebatas ujian tertulis. Selain ujian akademik, siswa dinilai melalui proyek-proyek kreatif, presentasi, pemecahan masalah tim, serta perkembangan karakter. Pendekatan holistik ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemajuan siswa dan memotivasi mereka untuk berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Kurikulum Merdeka memahami bahwa setiap siswa memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan penilaian yang holistik digunakan, mencakup berbagai aspek dari perkembangan siswa. Selain ujian tulis, penilaian mencakup proyek-proyek, presentasi, serta penilaian formatif yang memberi gambaran menyeluruh tentang pencapaian siswa. Hal ini menciptakan suasana yang mengurangi tekanan dan mendorong siswa untuk belajar dengan semangat dan motivasi yang tinggi.

4. Peningkatan Keterampilan Hidup (Life Skills)

Kurikulum Merdeka mendorong pengembangan keterampilan hidup esensial seperti pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan keterampilan kritis. Siswa dilatih untuk menjadi pemikir kreatif, inovatif, serta mandiri, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan global di era digital ini. Selain itu, aspek kepemimpinan, empati, dan keterampilan sosial juga ditekankan, membentuk siswa sebagai individu yang tidak hanya cerdas tetapi juga peduli dan bertanggung jawab.

5. Pengembangan Karakter dan Etika

Selain pengetahuan akademis, Kurikulum Merdeka memberikan penekanan pada pengembangan karakter dan etika. Siswa didorong untuk memahami nilai-nilai moral seperti integritas, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Program-program pengembangan diri dan kegiatan sosial membentuk siswa sebagai warga negara yang bertanggung jawab, menghargai keberagaman, dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Kurikulum Merdeka juga memberi perhatian khusus pada pembentukan karakter dan nilai siswa. Melalui pendekatan pembelajaran yang menekankan pada etika, kejujuran, dan tanggung jawab, siswa tidak hanya belajar konsep akademik, tetapi juga nilai-nilai moral yang penting untuk membentuk kepribadian yang baik.

Kesimpulan: Menuju Pendidikan yang Lebih Berdaya Saing dan Manusia yang Lebih Berbudi

Kurikulum Merdeka bukan hanya tentang mengubah kurikulum, tetapi juga tentang mengubah paradigma pendidikan. Dengan menekankan inklusivitas, pembelajaran kontekstual, penilaian holistik, pengembangan keterampilan hidup, dan karakter, Indonesia membuka pintu menuju masa depan pendidikan yang lebih berdaya saing dan manusia yang lebih berbudi. Kurikulum Merdeka bukan hanya sekadar sistem pendidikan, tetapi merupakan fondasi bagi perkembangan generasi muda yang cerdas, kreatif, berempati, dan bertanggung jawab, siap menghadapi dunia yang kompleks dengan kepala dingin dan hati yang baik. Ini adalah tonggak sejarah dalam perjalanan pendidikan Indonesia, sebuah langkah maju menuju masa depan yang lebih cerah dan inklusif untuk semua anak-anak Indonesia. Kurikulum Merdeka telah membuka pintu menuju masa depan pendidikan yang lebih cerah dan inklusif. Dengan fokus pada kreativitas, inklusivitas, kolaborasi, penilaian holistik, serta penanaman karakter dan nilai, Kurikulum Merdeka bukan hanya sekadar sistem pendidikan, tetapi sebuah perjalanan menuju pengembangan manusia yang lebih baik. Dengan pendekatan ini, Indonesia sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang baik dan siap menghadapi dunia yang kompleks dengan keyakinan dan keberanian. Kurikulum Merdeka tidak hanya mengubah cara kita mengajar dan belajar, tetapi juga mengubah cara kita memandang masa depan pendidikan dan masa depan anak-anak kita.

 

Sunday, 22 October 2023

Filosofi Pendidik Kristen

 Oleh: Markus Heri Prasetyo S.T.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu filsafat berperan sentral sebagai asal atau pokok dari ilmu pengetahuan itu sendiri, karena filsafat yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha yang dilakukan oleh manusia secara spiritual untuk mencari kebenaran atau pengetahuan. Maka filsafat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan, terkhusus kita sebagai seorang guru dalam mendidik siswa-siswi. Filsafat dipakai sebagai pendekatan dalam dunia pendidikan, memberikan arah dalam kegiatan dan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan pandangan hidup dalam kehidupan sosial masyarakat.


Menurut saya, sesuai dengan perkembangan era modern yang semakin pesat menuntut kita para guru dan sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk mempersiapkan siswa-siswi menghadapi setiap tantangan dan permasalahan yang mungkin akan dihadapi. Pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin bisa menjadi tidak benar pada masa yang akan datang. Maka dari itu, guru mempersiapkan para siswa untuk masa depan mereka dengan membekali keterampilan berupa strategi untuk memecahkan masalah (problem solving) dan mengatasi masalah-masalah tersebut dalam kehidupannya sehingga menemukan pengetahuan yang relevan dengan saat itu. Hal ini tentunya ditunjang dengan dasar menganalisa diri pribadi, merefleksi diri secara berkelanjutan, sehingga para siswa dapat mengindentifikasikan nilai-nilai yang tepat dan sesuai dan tepat. Hal yang sangat penting dari semua hal yang seorang guru lakukan untuk mendidik para siswanya adalah tetap meletakkan Alkitab sebagai dasar dari filsafat pendidikan yang diterapkan. Karena kebenaran itu menurut saya mutlak, karena Tuhan Allahlah kebenaran sejati itu. Yang perlu dipercayai bahwa hal yang baik belum tentu benar, tetapi hal yang benar sudah pasti baik. 

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dalam pembelajaran menekankan pada pembelajaran aktif, guru sebagai fasilitator untuk menstimulasi para siswa untuk aktif belajar dengan melakukan kegiatan, bisa dengan pendekatan sains (scientific approach) untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui pengalaman langsung (practical experience)


Salah satu tujuan pendidikan adalah mencerdaskan para siswa dengan mengajar para siswa untuk berfikir secara rasional dengan tetap memberikan landasan sosial, sehingga akhirnya para siswa akan memberi kontribusi dan peran positif dalam kehidupan bermasyarakat.


Sekolah melalui guru mengajar para siswa tentang nilai-nilai personal bercermin pada diri Pribadi Yesus sebagai Manusia Sempurna (Kej 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." ) dan juga nilai-nilai sosial (Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.)


Sejatinya bahwa semua orang dapat berubah dengan konstan, dan melalui proses pembelajaran memungkinkan merubah masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Selain itu pembelajaran juga harus mempertimbangkan siswa secara menyeluruh, baik minat dan kebutuhannya dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.


Mutu hasil pendidikan seyogyanya tidak ditentukan dengan menetapkan ukuran yang berlaku secara mutlak karena hakikatnya pendidikan adalah suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung secara terus-menerus. Pembelajaran berpusat pada siswa bukan guru, guru memfasilitasi para siswa dalam menentukan dan memilih masalah yang bermakna, membantu menemukan sumber-sumber data yang sesuai, menganalisa dan menyimpulkan. Para siswa diberi kebebasan tentang pengetahuan dan kegiatan yang diinginkan, dengan tetap dibimbing guru maupun orang tua. Sehingga para siswa memperoleh keterampilan yang cukup untuk berinteraksi dalam lingkungan masyarakat yang berbeda dalam proses perubahan yang berkelanjutan. Dengan pengalaman pembelajaran yang dimiliki, para siswa akan mampu menghadapi setiap tantangan perubahan zaman yang akan terjadi di masa mendatang.


CURRICULUM THEORY AND DEVELOPMENT



Markus Heri Prasetyo

Mini Curriculum

 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nama Program: SIR SIEMA

Latar Belakang:

Siswa saat ini ke depannya mereka akan menghadapi tantangan teknologi informasi dan perkembangan industri yang semakin pesat, juga  perubahan iklim yang akan berdampak pada peluang hidup dan pilihan hidup mereka di masa mendatang. Siswa tidak cukup hanya dibekali dengan materi-materi pembelajaran saja tetapi juga dengan keterampilan bagaimana mereka mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, dimulai dengan menginovasi lewat permasalahan yang timbul di lingkungan masyarakat ataupun lingkungan sekolah.


Tujuan Program:

Program SIR SIEMA kependekan dari Science Investigatory and Research - kolaborasi mapel Science/ICT/English/Mathematics/Art dimaksudkan agar siswa memiliki peluang untuk memperoleh dan menerapkan berbagai program keterampilan untuk mendukung mereka dalam tantangan masa depan, termasuk:

  • meneliti, menganalisis, dan mengevaluasi informasi

  • mengembangkan dengan serangkaian penalaran

  • merefleksikan proses dan hasil

  • mengkomunikasikan informasi dan alasan

  • berkolaborasi untuk mencapai hasil bersama.

Siswa diharapkan mengeksplorasi topik yang memiliki signifikansi global dan mereka belajar berkolaborasi dengan sesama siswa dalam mengaplikasikan apa yg didapat dari pelajaran di kelas terutama Science dalam bentuk project penelitian ataupun produk teknologi, sehingga proses pembelajarannya lebih mengarahkan kepada kemandirian belajar dan mengembangkan kemandirian pemikiran. Program ini menekankan pada pengembangan dan penerapan keterampilan daripada akuisisi pengetahuan. 


Biblical Principles:


Efesus 4:2. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu   dalam hal saling membantu.”

Siswa saling membantu dan bekerjasama dalam tim, saling melengkapi dengan kelebihan dan talenta mmasing-masing anak, mengangkat topik permasalahan yang ada di sekitar mereka dan memecahkan permasalahan tersebut lewat inovasi penelitian untuk membantu orang lain.

Proverb 25:2 It is the glory of God to conceal things, but the glory of kings is to search things out. 

Allah adalah sumber segala pengetahuan, kita sebagai ciptaan-Nya mempelajari dan memecahkan permasalahan dimulai deengan melakukan penelitian (research).



Deskripsi Program:

Siswa akan melakukan penelitian dan membuat produk dengan memilih sesuai tema yang telah ditetapkan. Melalui kegiatan penelitian yang dilakukan, siswa tidak akan hanya belajar Sains (Fisika, Kimia, Biologi) saja, tetapi juga Bahasa Inggris (karena laporan penelitian dan presentasi hasil dalam bahasa inggris), juga matematika pada pengolahan data statistik pengamatan, belajar bisnis entrepreneur. Penelitian dengan bimbingan dan pengawasan guru yang telah ditunjuk sebelumnya dalam kurun waktu 6 bulan, siswa akan mempresentasikan dalam bentuk Oral Defense. Hasil kreasi dan inovasi dari siswa akan ditampilkan dalam suatu exhibition atau festival sains dan bazar, sehingga produk kreasi bisa dijual di bazar tersebut. Siswa belajar finansial dengan menjadi entrepreneur dari hasil kreasi inovasi mereka. 


Sasaran:

Program ini diikuti siswa kelas 9.


Program Timeline:


Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

Bulan 4

Bulan 5

Bulan 6

Judul/Masalah



Studi Literatur



Metode Penelitian



Analisa hasil 



Pembahasan Kesimpulan



Finalisasi Hasil/Produk



Presentasi



Pameran


  1. Pengajuan Judul/Masalah

Siswa dalam tim yang telah dikelompokkan mengajukan judul dari permasalahan topik yang mereka angkat. 

  1. Studi Literatur

Studi literatur dari internet, perpustakaan sekolah maupun universitas seperti perpustakaan UNS, UGM.

  1. Metode Penelitian.

Siswa merancang penelitian dengan metode yang sesuai.

  1. Analisa hasil.

Analisa hasil setelah siswa melakukan percobaan pada penelitian mereka.

  1. Pembahasan Kesimpulan

Mengambil kesimpulan dari pembahasan hasil yang didapatkan.

  1. Finalisasi Hasil/Produk

Finalisasi hasil atau produk. JIka hasil penelitian berupa produk yang bisa dikonsumsi, siswa juga harus memperhatikan aspek packaging, segi marketing value nya harus diperhatikan. Di sini siswa kan belajar Business dan Finansial, yaitu belajar menghitung cost produksi dan nilai jualnya.

  1. Presentasi

Presentasi diuji kelayakan oleh guru-guru yang berkompeten, juga dosen guru dari UNS dan UGM.

  1. Pameran/Festival/Bazaar

Pameran diselenggarakan untuk menampilkan semua hasil karya siswa. Hasil anak yang termasuk kategori “gold” dan sesuai dengan topik lomba akan diikutsertakan dalam lomba karya ilmiah seperti KRENOVA.

Seluruh hasil karya siswa bisa ditampilkan dalam SOW (Science expO Weekend), ayaitu pameran hasil karya siswa selama 1 semester pembelajaran dan orang tua diundang pertepatan juga dengan pengambilan Hasil Belajar/Raport.


Topik/Masalah yang diangkat:

Topik permasalahan yang diangkat antara lain:

  1. Energi

  2. Pemanfaatan limbah

  3. Teknologi Informasi dan Digital

  4. Teknologi pangan

  5. Agrikultural

Tema juga bisa diangkat dari isu-isu yang baru yang lagi up to date. Program SIR SIEMA integrasi dan kolaborasi pembelajaran antar mata pelajaran.


Penilaian:

Program ini lebih menekankan dalam membangun siswa untuk berkompetisi dengan diri sendiri. SIR akan memberikan penghargaan/award bagi siswa yang berpartisipasi berdasarkan kemampuan mereka.  Award yang dimaksud adalah kategori "gold",  kategori "silver" dan kategori "bronze". Ada level skill tertentu untuk mencapai award tersebut, sehingga para siswa tidak bersaing dengan siswa yang lain. Mereka memotivasi diri mereka sendiri untuk mencapai target mereka. Semua siswa akan mendapatkan award berdasarkan pencapaian mereka. Minimal mereka akan mendapatkan "bronze" sebagai sebuah penghargaan atas usaha untuk berani tampil dan mempersiapkan diri dalam program ini.


Adapun aspek penilaian sebagai berikut:

Aspek

Bobot %

Keterangan

Laporan

10

Berupa laporan tertulis hasil penelitian sebagai hasil karya tulis siswa. Laporan sesuai dengan aturan kaidah karya tulis.

Keaslian ide

20

Penelitian diangkat berdasarkan ide asli dari siswa, modifikasi penelitian yang sebelumnya sudah ada.

Kreativitas

20

Kejelian siswa dalam mengangkat pokok permasalahan dan bagaimana menjawab permasalahan tersebut dengan ide kreatif lewat penelitian

Presentasi Tim

25

Performa dalam menampilkan hasil penelitian, kesiapan, estetika, dll

Kemampuan menjawab

25

Kemampuan siswa menjawab pertanyaan yang disampaikan guru/dosen penguji

 

Penilaian tiap aspek tersebut di atas akan dibuatkan panduan rubrik penilaiannya secara lebih detail.


MENDIDIK ANAK DI ERA REVOLUSI DIGITAL 4.0

 


Oleh: Markus Heri Prassetyo, S.T.


BAB 1 LATAR BELAKANG MASALAH 

Anak adalah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Maka tidaklah mengherankan jika setiap orang akan memberikan yang terbaik bagi buah hati tercinta termasuk dalam hal pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu pilar yang menentukan kemajuan dan kualitas suatu bangsa. Oleh sebab itu setiap warga negara wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. 

Jaman globalisasi ditandai dengan berkembangnya dunia teknologi secara pesat. Bahkan dunia saat ini yang berada pada masa revolusi industri 4.0  ditandai dengan digitalisasi pada berbagai hal. Perkembangan teknologi yang berkembang pesat memberikan pengaruh positif maupun negatif bagi manusia, terutama dalam pendidikan anak. Memilih pendidikan anak di era digital memang lebih sulit dibandingkan dulu. Di era digital di mana semua orang telah melek teknologi atau gadget, termasuk anak-anak yang tumbuh dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan akses informasi kapan pun dan dimana pun. Internet World Stats mencatat estimasi jumlah penduduk Indonesia mencapai 273 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet Januari 2020 sebanyak 171 juta jiwa dan menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil  https://www.internetworldstats.com/stats3.htm#asia.  Akan tetapi penggunaan internet di era digital belum dimanfaatkan secara optimal, karena sebagian besar pengguna internet masih berfokus pada pemanfaatan media sosial  (tercatat pengguna Facebook sampai Januari 2020 sebanyak 136 juta) belum didominasi dengan pemahaman yang lebih maju bahwa dunia digital bisa dioptimalkan lebih maksimal, tidak saja untuk berkomunikasi dalam kapasitas pergaulan dan persahabatan, tapi juga bisa untuk sharing knowledge, aktualisasi diri, hingga motif bisnis dan ekonomi. 


Kita berharap agar jangan sampai dengan mudahnya akses internet di era digital ini berdampak negatif untuk bangsa, termasuk untuk anak-anak. Sebagai orang tua harus jeli memberikan pendidikan yang tepat terutama sejak usia dini untuk mengantisipasi perkembangan teknologi di era digital. Pendidikan usia dini, sejak anak usia 0-6 tahun inilah yang akan menjadi tulang punggung pembangunan dan menentukan masa depan bangsa. Anak-anak perlu diberikan pendidikan sejak usia dini untuk diarahkan dan diajarkan serta untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi dan menggunakannya secara bijak dan kreatif. Sikap inilah yang perlu untuk dibangun sejak dini baik oleh institusi pendidikan maupun keluarga.


Orang tua dituntut untuk bisa memahami perkembangan teknologi karena banyak anak yang terpengaruh oleh dunia digital. Apabila anak-anak tidak diarahkan dengan baik maka mereka bisa terkena dampak negatif teknologi yang akan mengganggu tumbuh kembangnya. Berbagai kasus ditemukan tentang pengaruh negatif teknologi terhadap anak, misalnya kecanduan game sehingga mengganggu konsentrasi belajar anak. Orang tua perlu menerapkan pengasuhan yang tepat sesuai dengan kondisi masa kini yang serba digital. 


BAB 2 TUJUAN TEORITIS

Tujuan teoritis:

  1. memahami pengaruh revolusi digital; 

  2. memahami dampak era digital bagi anak; 

  3. memahami tantangan yang dihadapi pada era digital terkait dengan pendidikan dan pengasuhan anak; dan 

  4. memahami cara mendidik anak pada era digital


BAB 3 PEMBAHASAN

3.1.  Revolusi Digital

Saat ini kita berada pada era digital atau lebih dikenal dengan era revolusi industri 4.0.  Pada era ini informasi mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan dengan menggunakan teknologi digital. Bisa dikatakan bahwa era digital merupakan dunia serba gadget dan internet. Jaman telah berubah, kita berbeda jaman dan berbeda generasi dengan anak-anak kita sekarang ini. Kita banyak melihat anak berumur dua tahun sudah fasih sekali mengoperasikan YouTube, sedangkan kita sendiri kadang kesulitan. Padahal saat dahulu pertama kali memegang gadget kita merasa sangat kesulitan. Era digital ini sudah mengubah kebiasaan kita. Sebelumnya jika kita ingin mengirim surat, kita hanya bisa mengirimnya lewat pos. Namun, sekarang ada alternatif lain, yaitu melalui pos-elektronik (e-mail). Apabila dahulu orang mendengarkan musik melalui kaset atau CD, sekarang sudah ada gadget khusus untuk mendengarkan musik dan bahkan ada perangkat lunaknya. Dahulu apabila berbelanja orang harus berkeliling toko, tetapi sekarang sudah bisa berbelanja melalui internet karena ada toko daring (online) seperti Lazada, Bukalapak, Tokopedia.

Teknologi digital atau gadget itu sendiri pada dasarnya bersifat netral. Seperti halnya dua mata pisau, gadget bisa bermanfaat bisa juga berbahaya. Yang menentukan pisau itu berbahaya atau bermanfaat adalah penggunanya. Jika dipakai oleh seorang koki maka pisau itu dapat digunakan untuk memotong sayuran, daging, dan buah-buahan, kemudian dijual dan dinikmati bersama. Sementara itu, jika digunakan oleh seorang penjahat, pisau itu dapat digunakan untuk membunuh, mencuri, merampok, dan sebagainya.


3.2. Dampak Positif Era Digital 

Kini, tentunya kita sudah merasakan sendiri bahwa teknologi digital ini banyak membantu dalam berbagai aspek kehidupan kita. Salah satunya teknologi ini dapat menjadi sumber informasi seperti Google, YouTube yang menjadi tempat orang-orang belajar dan mencari informasi dengan mudah dan cepat. Dahulu ketika kita mengirim surat hanya ada satu pilihan, yaitu melalui pos. Namun, dengan teknologi digital kini kita bisa mengirim surat melalui e-mail. Selain itu, pada era digital ini kita tidak perlu kaget ketika anak-anak sekarang ditanya cita-citanya ingin menjadi apa? Mereka menjawab ingin menjadi youtuber, selebgram, atlet e-sport (game), atau programmer. Padahal dahulu mungkin kalau kita ditanya tentang cita-cita banyak yang menjawab ingin menjadi guru, polisi, pilot, atau dokter. Pada kenyataannya sekarang sudah ada para youtuber cilik yang mampu menginspirasi bahkan menghasilkan uang puluhan jutaan rupiah dari YouTube. Jenis profesi pada era digital ini tentunya lebih banyak jenisnya dibandingkan dengan era kita. Apabila hari ini ditanya tentang cita-citanya, mayoritas anak-anak sontak menjawab ingin menjadi youtuber, gamer, endorser, dan sebagainya. Mari kita coba lihat beberapa orang yang secara kreatif menggunakan teknologi digital sehingga pada akhirnya mereka dapat menginspirasi banyak orang, memberikan manfaat, dan bahkan menghasilkan uang.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa teknologi digital itu antara lain bermanfaat untuk: 

  1. sumber informasi; 

  2. membangun kreativitas; 

  3. komunikasi; 

  4. pembelajaran jarak jauh; seperti saat ini yang terjadi karena merebaknya penyebaran Covid-19 di dunia, memaksa untuk melakukan online learning. 

  5. jejaring sosial; 

  6. mendorong pertumbuhan usaha; 

  7. memperbaiki pelayanan publik; dan 

  8. mendorong munculnya profesi baru.


3.3. Tantangan Pendidikan dan Pengasuhan pada Era Digital 

Di samping banyak manfaat penggunaan gadget di era digital ini, ternyata gadget juga menyimpan berbagai risiko yang, jika kita tidak bijaksana menggunakannya, akan berdampak negatif. Beberapa potensi risiko yang perlu diperhatikan oleh orang tua seperti: 

  1. Kesehatan Mata Anak: Paparan berlebihan terhadap penggunaan telepon pintar dapat memicu penglihatan yang buruk. 

  2. Masalah Tidur: Masalah tidur anak dapat terjadi karena lamanya melihat layar digital dan media digital. 

  3. Kesulitan Konsentrasi: Penggunaan media digital memiliki efek terhadap keterampilan dan mengubah perhatian anak sehingga bisa meningkatkan perilaku terlalu aktif dan kesulitan untuk berkonsentrasi. 

  4. Menurunnya Prestasi Belajar: Penggunaan media digital yang berlebihan dapat menurunkan prestasi belajar anak. 

  5. Perkembangan Fisik: Penggunaan media digital membatasi aktivitas fisik yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang yang optimal. Anak sering menahan lapar, haus, dan keinginan buang air sehingga mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan ketidakseimbangan bobot tubuh (terlalu gemuk atau terlalu kurus). 

  6. Perkembangan Sosial: Anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mementingkan diri sendiri sehingga sulit bergaul secara langsung serta memiliki kesulitan mengenali berbagai nuansa perasaan. 

  7. Perkembangan Otak dan Hubungannya dengan Penggunaan Media Digital: Anak-anak perlu menyeimbangkan antara bermain di perangkat digital dan bermain di dunia nyata. 

  8. Menunda Perkembangan Bahasa Anak: Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan media digital bisa menunda perkembangan bahasa anak, terutama bagi anak-anak yang berusia dua tahun ke bawah.


3.4. Antisipasi Dampak Negatif Era Digital bagi Anak Melalui Pembiasaan Baik di Keluarga 

Anak kita digital native dan secara bakat menguasai dunia digital. Namun, harus ada seseorang yang membimbing (coach), disinilah yang paling banyak berperan sebenarnya adalah keluarga. Hal-hal  praktis yang dapat dipraktikkan oleh orang tua terhadap anaknya, misalnya:

  1. Membuat kesepakatan

  2. Mengajarkan dan melatih anak bermain game sesuai usianya

  3. Mengajarkan dan melatih anak memakai handphone secukupnya dan seperlunya

  4. Mengajarkan dan melatih anak untuk menjaga pandangannya

  5. Mengajak anak untuk berfikir, memilih dan memutuskan

  6. Melatih kontrol diri anak seperti: melatih untuk berfikir kritis, melatih untuk menimbang baik dan buruk, melatih kemampuan membuat perencanaan, melatih menunda kepuasan dengan memberi tantangan dahulu sebelum memberikan sesuatu.


Sebagai contoh mengenai membuat kesepakatan mengapa itu penting untuk diletakkan di awal? Mari kita lihat kasus kejadian di salah satu keluarga di bawah ini. Ketika Ayah bekerja, hampir tiap hari selalu mendengar si Mama mengatakan, "Duuuh ni anak main HP mulu! Kakak udah main HP-nya! Kalau ga berenti nanti Mama sita HP-nya!" Beberapa waktu kemudian si Mama curhat kepada si Ayah, "Ayah... anak kita kenapa yah susah banget berhenti kalau udah pake HP? Kalau ga main mobile legend, youtube-an terus kerjaannya. Kalau diminta ini itu, jawabannya ntar ntar ntar.... Gimana dong ini?" Kemudian ayahnya mengatakan dengan nada datar, "Ya, kamu sih, Mah, terlalu manjain dia. Kan Ayah udah bilang jangan dikasi…. Ini masih aja banyak ga tegaannya." Yap! Suasana pun kemudian hening.... Si Mama kesal disalahkan melulu. Sementara itu, si Ayah selalu punya standar jawaban, "Aku kan kerja, urusan anak aku udah percayain sepenuhnya sama kamu, Mah. Masa sih gitu doang ga bisa…." Memercayakan dengan melepaskan kadang berbeda tipis. Kadang kita marah kepada seseorang karena orang tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Di sisi lain mungkin orang tersebut tidak tahu bahwa dia tidak bisa memenuhi ekspektasi kita. Itukah anak kita? Itukah pasangan kita? Hal itu menandakan pentingnya kesepakatan diletakkan di awal, bukan di tengah-tengah apalagi di akhir, baik itu dengan pasangan, dengan anak, bahkan dengan orang tua/mertua. Setidaknya tiap orang akan tahu do's & don’ts-nya, meminimalisir kesalahpahaman, perbedaan ekspektasi, dan konflik di dalam keluarga. Diperlukan kesepakatan untuk hal apa pun yang memang dirasa penting dan perlu. Kesepakatan itu sebisa mungkin harus saling menguntungkan kedua pihak, ada negosiasi, dan tidak memaksakan kehendak salah satu pihak, atau hanya menerima saja apa adanya. 




BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

Coba bayangkan jika kita hidup di tengah lautan, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan mengunci anak kita rapat-rapat agar tidak keluar rumah karena khawatir mereka tenggelam? Atau sebenarnya kita akan mengajarinya berenang agar dia bisa mandiri, tangguh walaupun kita tidak ada di sampingnya lagi. Jika jawabannya adalah mengajari mereka berenang, begitu juga dengan dunia anak kita saat ini yang hidup pada zaman teknologi. Kita berada pada era digital sehingga hampir semua hidup kita dikelilingi dengan alat bantu teknologi. Apakah kita akan menjauhkan mereka dari teknologi? Atau justru mulai mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana cara menggunakan teknologi yang baik dan bijaksana agar mereka tangguh dalam menghadapi tantangan zaman? 

Sebagai orang tua kita harus mengoptimalkan teknologi digital untuk mengasuh anak. Meskipun demikian, kunci utama pengasuhan digital adalah adanya kesepakatan antara ibu dan ayah mengenai cara pengasuhan anak yang paling sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Kemudian menerapkan cara pengasuhan itu secara konsisten melalui interaksi langsung, suri tauladan, dan kebiasaan dalam keluarga. Menyikapi penggunaan media digital di tengah keluarga secara bijaksana. Membuat aturan dan kesepakatan dalam keluarga terkait penggunaan media digital itu. Dan memastikan seluruh keluarga mendapatkan lebih banyak manfaat daripada efek negatifnya. Media digital hanyalah alat bantu dalam keluarga, ia tak dapat menggantikan peran orang tua dan interaksi keluarga secara langsung. Marilah kita mendidik anak pada era digital.



REFERENSI

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT, KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. 2019. Modul Mendidik Anak Di Era Digital

Dyna Herlina, dkk. 2018.  Digital Parenting: Mendidik Anak Di Era Digital. Yogyakarta: Samudra Biru

https://www.internetworldstats.com/stats3.htm#asia. ASIA INTERNET USE, POPULATION STATISTICS DATA AND FACEBOOK DATA - JANUARY 31, 2020.


Recent Posts

Contact Form

Name

Email *

Message *